Amalgam, Tambal Gigi Bermerkuri Yang Pernah Populer
Dijelaskan drg Dewi Kartini Sari dari Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), metode tambal gigi amalgam telah muncul sejak kurang lebih 150 tahun yg lalu. Amalgam populer karena mengandung logam dan memiliki daya tahan yg kuat.
Baca juga: Waspada Bahaya Amalgam, Tambalan Gigi yg Tinggi Kandungan Merkuri
"Amalgam menjadi alternatif kala itu karena ketahanan fraktur, ketahanan aus, dan daya tahannya yg tinggi. Dan metode ini masih digunakan hingga 150 tahun kemudian," tutur drg Sari, dalam seminar 'Mengapa Kita Harus Mendorong Sektor Kesehatan Gigi Bebas Merkuri (Mercury-Free Dentistry)?' di Hotel Ibis Tamarin, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2016).
drg Sari menyebut hal yg sama juga terjadi di Indonesia. Amalgam cepat populer karena dianggap kuat dan tak perlu tidak jarang ke dokter gigi akibat tambalan yg lepas atau copot.
Namun memasuki media tahun 2000-an, popularitas amalgam menurun. drg Bobby Gunadi dari klinik gigi Smile Studio menyampaikan ada dua faktor yg membuat popularitas amalgam menurun. Pertama, tentu saja karena mencuatnya publikasi ilmiah soal bahaya kandungan merkuri pada amalgam.
"Alasan lainnya adalah tak adanya nilai estetika. Semakin ke sini orang semakin melihat nilai estetika dan lebih memilih tambalan yg sewarna gigi," ungkap drg Bobby.
Pernyataan Organisasi Kesehatan Global (WHO) tentang bahaya merkuri, serta adanya perjanjian Minamata membuat kewaspadaan terkait bahan merkuri di amalgam semak in besar. Terlebih, dua publikasi ilmiah menyebut bahaya merkuri tidak cuma mengancam pasien yg memakai tambal gigi amalgam, namun juga dokter gigi yg mengerjakannya.
Setelah itu popularitas amalgam pun menurun. Bahkan drg Bobby sendiri mengaku tidak pernah memakai amalgam selama 15 tahun praktik sebagai dokter gigi di Jakarta.
Baca juga: Langka, Jameela Diduga Keracunan Merkuri karena Tambalan Gigi
(mrs/vit)
Sumber: http://health.detik.com
Dijelaskan drg Dewi Kartini Sari dari Pengurus Besar Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PB PDGI), metode tambal gigi amalgam telah muncul sejak kurang lebih 150 tahun yg lalu. Amalgam populer karena mengandung logam dan memiliki daya tahan yg kuat.
Baca juga: Waspada Bahaya Amalgam, Tambalan Gigi yg Tinggi Kandungan Merkuri
"Amalgam menjadi alternatif kala itu karena ketahanan fraktur, ketahanan aus, dan daya tahannya yg tinggi. Dan metode ini masih digunakan hingga 150 tahun kemudian," tutur drg Sari, dalam seminar 'Mengapa Kita Harus Mendorong Sektor Kesehatan Gigi Bebas Merkuri (Mercury-Free Dentistry)?' di Hotel Ibis Tamarin, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (24/1/2016).
drg Sari menyebut hal yg sama juga terjadi di Indonesia. Amalgam cepat populer karena dianggap kuat dan tak perlu tidak jarang ke dokter gigi akibat tambalan yg lepas atau copot.
Namun memasuki media tahun 2000-an, popularitas amalgam menurun. drg Bobby Gunadi dari klinik gigi Smile Studio menyampaikan ada dua faktor yg membuat popularitas amalgam menurun. Pertama, tentu saja karena mencuatnya publikasi ilmiah soal bahaya kandungan merkuri pada amalgam.
"Alasan lainnya adalah tak adanya nilai estetika. Semakin ke sini orang semakin melihat nilai estetika dan lebih memilih tambalan yg sewarna gigi," ungkap drg Bobby.
Pernyataan Organisasi Kesehatan Global (WHO) tentang bahaya merkuri, serta adanya perjanjian Minamata membuat kewaspadaan terkait bahan merkuri di amalgam semak in besar. Terlebih, dua publikasi ilmiah menyebut bahaya merkuri tidak cuma mengancam pasien yg memakai tambal gigi amalgam, namun juga dokter gigi yg mengerjakannya.
Setelah itu popularitas amalgam pun menurun. Bahkan drg Bobby sendiri mengaku tidak pernah memakai amalgam selama 15 tahun praktik sebagai dokter gigi di Jakarta.
Baca juga: Langka, Jameela Diduga Keracunan Merkuri karena Tambalan Gigi
(mrs/vit)
Sumber: http://health.detik.com