Minggu, 24 Januari 2016

test: Gigihnya Ibu-ibu Pedagang Di Bali Perjuangkan Kesehatan Reproduksi

Gigihnya Ibu-ibu Pedagang Di Bali Perjuangkan Kesehatan Reproduksi


Badung, Sepintas tidak ada yg berbeda dari Pasar Badung, dibandingkan dengan pasar tradisional lainnya. Baik pedagang maupun pengunjungnya didominasi oleh kaum ibu, meskipun banyak juga wisatawan yg membaur di pasar tradisional terbesar di Bali ini.

Nyoman Sinar (70 tahun) adalah salah seorang pedagang di Pasar Badung. Ibu dari 4 anak sekaligus nenek dari 6 cucu ini berjualan pernak-pernik sesaji di salah sesuatu los, persis di belakang salah sesuatu pos keamanan. Seperti kebanyakan pedagang yg lain, ia terus ramah menyapa pengunjung.

Namun ada sesuatu yg membedakan Nyoman dengan pedagang pasar lainnya. Selain menawarkan dagangan, ia juga membagi-bagi brosur tentang HIV-AIDS (Human Immunodeficiency Virus-Acquired Imuno Deficiency Syndrome) dan ke sehatan reproduksi. Kadang-kadang, ia bahkan menawarkan kondom gratis.

"Awalnya banyak yg risih, terutama bapak-bapak. 'Ini apa sih?' katanya. Tapi lama-lama banyak juga yg ingin tahu," tutur Nyoman, Sabtu (23/1/2016).

Bersama belasan relawan lainnya, Nyoman menjadi peer educator atau penyuluh sebaya buat ibu-ibu pekerja di Pasar Badung. Beberapa adalah pedagang seperti Nyoman, dan sebagian lainnya adalah kuli angkut. Mereka tergabung dalam Yayasan Rama Sesana (YRS).

Baca juga: Hendak Ajarkan Anak Pendidikan Seks? Jangan Lupa Pakai Prinsip 'Praise'

Nyoman Sinar (Foto: AN Uyung P)
Direktur YRS, dr Luh Putu Upadisar alias dr Sari menjelaskan bahwa organisasi nirlaba ini telah berdiri sejak 1999. Selain rutin mengadakan penyuluhan di lantai 4 Pasar Badung, yayasan ini juga menyediakan layanan deteksi dini kanker serviks dan kanker payudara, serta infeksi menular seksual.

"Sebagian besar perempuan berpenghasilan rendah di Bali tak milik akses terhadap keterangan kesehatan, serta layanan kesehatan dengan biaya yg terjangkau," kata dr Sari menjelaskan latar belakang berdirinya YRS.


Kebutuhan mulai keterangan tentang kesehatan di kalangan ibu-ibu di pasar sangat tinggi, dan keterangan cenderung cepat menyebar di antara mereka. Oleh dr Sari, keadaan tersebut dianggap sebagai peluang buat memberdayakan kaum ibu bagi mencapai derajat kesehatan yg lebih baik.

Soal biaya pelayanan, dr Sari menjelaskan bahwa YRS memakai pendekatan donasi. "Semampunya mereka saja. Kalau dapat boleh bayar, kalau tak juga silakan saja tak perlu bayar," jelas dr Sari.


Sejak 2005, tercatat 21.246 orang sudah mengakses layanan kesehatan reproduksi dan keluarga berencana di klinik YRS. Dari angka tersebut, mayoritas yakni 68 persen adalah perempuan, 26 persen laki-laki, dan 6 persen anak-anak.

Pemeriksaan payudara tercatat 14.220 kali, pap smear bagi deteksi dini kanker serviks sebanyak 7.683 kali, tes infeksi menular seksual 17.265 kali, dan VCT (Voluntary Counseling and Test) buat HIV sebanyak 3.161 kali.

Perjuangan dr Sari dan para relawan di YRS bukan tanpa kendala. Selain soal kebijakan pemerintah yg tak terus memprioritaskan kesehatan reproduksi, kesehatan seksual yg masih dianggap sebagai isu sensitif juga dianggap sebagai tantangan tersendiri.

"Untungnya, masyarakat Bali sangat open. Nir banyak penolakan," kata dr Sari.

Baca juga: Beri Pendidikan Reproduksi buat Anak, Orang Tua Harus Punya Bekal Cukup
dr Sari di depan klinik Yayasan Rama Sesana (Foto: AN Uyung P)
(up/lll)
Sumber: http://health.detik.com

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : test: Gigihnya Ibu-ibu Pedagang Di Bali Perjuangkan Kesehatan Reproduksi