Inspiratif! Anak-anak Tuna Netra Ini Mahir Operasikan Komputer
Diungkapkan Suryo Pramono, salah sesuatu pengajar komputer di Kawan Netra binaan CT Arsa Foundation, penggunaan perangkat komputer pada tuna netra mengandalkan screen reader (pembaca layar) dengan prinsip membacakan tiap teks yg ada di layar. Sehingga, apa yg diketikkan di layar.
Kemudian, tombol apa yg ditekan di keyboard mulai diterjemahkan dalam bentuk suara. Seperti di Kawan Netra, pembelajaran komputer memakai perangkat yg umum alias tak memakai huruf braille.
"Syaratnya memang anak harus dapat ngetik 10 jari lalu sehingga dia bisa menghafal navigasi dengan cepat. Nanti kalau udah hafal sering memakai shortcut-shortcut gitu kan jadi gampang," tutur Suryo ditemui di Kawan Netra, Jl Gunung Balong 2, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Jumat (29/1/2016).
Untuk mengajar anak mengetik sepuluh jari, menurut Suryo sama seperti pada orang awam di mana jari tangan diarahkan ke huruf tertentu. Kemudian, anak 'dipancing' buat mengetik hal-hal yg ia sukai, misalnya nama panjangnya. "Kalau dia ketik namanya selalu ada suaranya gitu kan anak senang," ujarnya.
Waktu belajar mengetik dengan sepuluh jari memang berbeda pada tiap anak. Rata-rata, butuh waktu tiga bulan sampai anak mampu mengetik dengan sepuluh jari. Jika telah handal, mereka diajari membuat dokumen sampai tabel, browsing, membuat akun email dan mengirim email, sampai mencari video di Youtube.
"Pastinya susah-susah mudah ya mengajarkan anak. Tapi kalau tahu dia dari akan nggak dapat sampe mampu internetan, kirim email, itu kebanggan tersendiri lho untuk kita," kata Suryo yg juga penyandang tuna netra dan telah mengajar komputer di Kawan Netra sejak tahun 2006.
Baca juga: Dokter Jerman: Tuna Netra Lebih 'Peka' Deteksi Kanker Payudara
Dalam Festival Kawan Netra yg digelar hari ini, anak-anak unjuk kebolehan dalam mengoperasikan komputer. Mereka membuat tabel, mengetik namanya, sampai mencari video di youtube dan mengirim email pada Suryo. Pada anak yg lo w vision di mana mereka masih dapat melihat tapi tak terlalu jelas, biasanya mereka benar-benar cermat menatap hasil ketikannya di layar. Meskipun, mereka juga masih mengandalkan suara dari screen reader.
Dalam kesempatan itu, klien Kawan Netra bernama Andi Setiawan yg mengalami kebutaan di tahun 1989 juga berbagi cerita. Berkat pelatihan komputer yg ia terima dari Suryo dan rekannya Sugiyo, Andi dapat membuat blog yg mendukung usaha kateringnya. Setelah berjalan tiga tahun, usaha 'The Pawon Catering' Andi telah mampu melayani 400-500 porsi makanan dalam paket harian.
"Yang aku ingin tekankan pada teman-teman, terus semangat, tak putus asa dan terus berusaha apapun yg terjadi. Saya awalnya belajar komputer di sini, iseng bikin blog, bersyukur sekali lewat pengetahuan itu aku dapat mengembangkan usaha aku dan ibu saya," tutur Andi.
(rdn/vit)
Sumber: http://health.detik.com
Diungkapkan Suryo Pramono, salah sesuatu pengajar komputer di Kawan Netra binaan CT Arsa Foundation, penggunaan perangkat komputer pada tuna netra mengandalkan screen reader (pembaca layar) dengan prinsip membacakan tiap teks yg ada di layar. Sehingga, apa yg diketikkan di layar.
![]() Suryo mendampingi salah sesuatu anak mengoperasikan kompyter (Foto: dian/detikHealth) |
Kemudian, tombol apa yg ditekan di keyboard mulai diterjemahkan dalam bentuk suara. Seperti di Kawan Netra, pembelajaran komputer memakai perangkat yg umum alias tak memakai huruf braille.
"Syaratnya memang anak harus dapat ngetik 10 jari lalu sehingga dia bisa menghafal navigasi dengan cepat. Nanti kalau udah hafal sering memakai shortcut-shortcut gitu kan jadi gampang," tutur Suryo ditemui di Kawan Netra, Jl Gunung Balong 2, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Jumat (29/1/2016).
Untuk mengajar anak mengetik sepuluh jari, menurut Suryo sama seperti pada orang awam di mana jari tangan diarahkan ke huruf tertentu. Kemudian, anak 'dipancing' buat mengetik hal-hal yg ia sukai, misalnya nama panjangnya. "Kalau dia ketik namanya selalu ada suaranya gitu kan anak senang," ujarnya.
![]() Salah sesuatu anak memperhatikan layar komputer (Foto: dian/detikHealth) |
Waktu belajar mengetik dengan sepuluh jari memang berbeda pada tiap anak. Rata-rata, butuh waktu tiga bulan sampai anak mampu mengetik dengan sepuluh jari. Jika telah handal, mereka diajari membuat dokumen sampai tabel, browsing, membuat akun email dan mengirim email, sampai mencari video di Youtube.
"Pastinya susah-susah mudah ya mengajarkan anak. Tapi kalau tahu dia dari akan nggak dapat sampe mampu internetan, kirim email, itu kebanggan tersendiri lho untuk kita," kata Suryo yg juga penyandang tuna netra dan telah mengajar komputer di Kawan Netra sejak tahun 2006.
Baca juga: Dokter Jerman: Tuna Netra Lebih 'Peka' Deteksi Kanker Payudara
Dalam Festival Kawan Netra yg digelar hari ini, anak-anak unjuk kebolehan dalam mengoperasikan komputer. Mereka membuat tabel, mengetik namanya, sampai mencari video di youtube dan mengirim email pada Suryo. Pada anak yg lo w vision di mana mereka masih dapat melihat tapi tak terlalu jelas, biasanya mereka benar-benar cermat menatap hasil ketikannya di layar. Meskipun, mereka juga masih mengandalkan suara dari screen reader.
![]() Salah sesuatu anak melihat keyboard (Foto: dian/detikHealth) |
Dalam kesempatan itu, klien Kawan Netra bernama Andi Setiawan yg mengalami kebutaan di tahun 1989 juga berbagi cerita. Berkat pelatihan komputer yg ia terima dari Suryo dan rekannya Sugiyo, Andi dapat membuat blog yg mendukung usaha kateringnya. Setelah berjalan tiga tahun, usaha 'The Pawon Catering' Andi telah mampu melayani 400-500 porsi makanan dalam paket harian.
"Yang aku ingin tekankan pada teman-teman, terus semangat, tak putus asa dan terus berusaha apapun yg terjadi. Saya awalnya belajar komputer di sini, iseng bikin blog, bersyukur sekali lewat pengetahuan itu aku dapat mengembangkan usaha aku dan ibu saya," tutur Andi.
![]() Andi Setiawan (foto: dian/detikHealth) |
(rdn/vit)
Sumber: http://health.detik.com



