Stigma Diri Sendiri Jadi Halangan Pasien Kusta Untuk Berobat
Dr dr Sri Linuwih Menaldi, SpKK(K), Ketua Divisi Dermatologi Infeksi Tropik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo menyampaikan stigma dari diri pengidap kusta membuat mereka enggan berobat. Pengidap kusta cenderung menyembunyikan penyakitnya, bahkan kepada orang terdekat.
Baca juga: Tak Takut Cacat Tertular, Hafiza Berdayakan Mantan Pasien Kusta Jahit JilbabÂ
"Self stigma itu membuat mereka berbohong tentang kondisi penyakitnya. Bahkan terkadan g teman tidurnya pun tak tahu kalau di sebelahnya pengidap kusta," tutur dr Sri, dalam temu media Hari Kusta Sedunia, di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (29/1/2016).
Takut dikucilkan menjadi alasan penting pengidap kusta enggan berobat. Tentunya hal ini memiliki efek negatif. Karena tak berobat, kemungkinan pengidap kusta buat menularkan penyakit ke lingkungan sekitar mulai meningkat.
"Mungkin ada teman sekolah anaknya atau teman main di lingkungan rumah. Ibu rumah tangga, ngerumpi-ngerumpi tiap hari ternyata tetangganya pengidap kusta dan tak berobat, risiko infeksi mulai meningkat," ucapnya.
Risiko penularan juga tak cuma terjadi di lingkungan sekitar rumah. Meski risikonya sangat kecil, bakteri penyebab kusta juga dapat menginfeksi saat daya tahan tubuh seseorang lemah dan terpapar bakteri kusta di tempat ramai.
Kebiasaan berbohong juga ditemui pada pasien yg berobat. Tenaga kesehatan membutuhkan data dan alam at buat mencegah terjadinya penularan yg lebih luas. Hanya saja ini sulit dikerjakan seandainya pasien masih berbohong.
"Yang berobat juga sering tak berterus terang. Menggunakan alamat palsu, begitu kami telusuri lingkungannya buat melihat risiko penularan, ternyata rumahnya nggak di situ. Jadi kami sebagai tenaga kesehatan sulit menemukan sumber penularannya," tambahnya lagi.
Baca juga: Bedah Rekonstruksi Bantu Eks Pasien Kusta Hilangkan Cacat Negatif(mrs/up)
Sumber: http://health.detik.com
Dr dr Sri Linuwih Menaldi, SpKK(K), Ketua Divisi Dermatologi Infeksi Tropik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia - RS Cipto Mangunkusumo menyampaikan stigma dari diri pengidap kusta membuat mereka enggan berobat. Pengidap kusta cenderung menyembunyikan penyakitnya, bahkan kepada orang terdekat.
Baca juga: Tak Takut Cacat Tertular, Hafiza Berdayakan Mantan Pasien Kusta Jahit JilbabÂ
"Self stigma itu membuat mereka berbohong tentang kondisi penyakitnya. Bahkan terkadan g teman tidurnya pun tak tahu kalau di sebelahnya pengidap kusta," tutur dr Sri, dalam temu media Hari Kusta Sedunia, di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (29/1/2016).
Takut dikucilkan menjadi alasan penting pengidap kusta enggan berobat. Tentunya hal ini memiliki efek negatif. Karena tak berobat, kemungkinan pengidap kusta buat menularkan penyakit ke lingkungan sekitar mulai meningkat.
"Mungkin ada teman sekolah anaknya atau teman main di lingkungan rumah. Ibu rumah tangga, ngerumpi-ngerumpi tiap hari ternyata tetangganya pengidap kusta dan tak berobat, risiko infeksi mulai meningkat," ucapnya.
Risiko penularan juga tak cuma terjadi di lingkungan sekitar rumah. Meski risikonya sangat kecil, bakteri penyebab kusta juga dapat menginfeksi saat daya tahan tubuh seseorang lemah dan terpapar bakteri kusta di tempat ramai.
Kebiasaan berbohong juga ditemui pada pasien yg berobat. Tenaga kesehatan membutuhkan data dan alam at buat mencegah terjadinya penularan yg lebih luas. Hanya saja ini sulit dikerjakan seandainya pasien masih berbohong.
"Yang berobat juga sering tak berterus terang. Menggunakan alamat palsu, begitu kami telusuri lingkungannya buat melihat risiko penularan, ternyata rumahnya nggak di situ. Jadi kami sebagai tenaga kesehatan sulit menemukan sumber penularannya," tambahnya lagi.
Baca juga: Bedah Rekonstruksi Bantu Eks Pasien Kusta Hilangkan Cacat Negatif(mrs/up)
Sumber: http://health.detik.com