Waspada Bahaya Amalgam, Tambalan Gigi Yang Tinggi Kandungan Merkuri
Ir Yuyun Ismawati, MSc(Oxon), Senior Advisor dari BaliFokus, lembaga swadaya masyarakat yg bergerak di bidang penanganan limbah zat beracun, menyebut 50 persen dari komposisi tambal gigi amalgam yaitu merkuri. Padahal seperti diketahui, merkuri yaitu zat beracun yg berbahaya seandainya masuk ke dalam tubuh manusia.
"Sayangnya, cuma 24 persen masyarakat yg mengetahui soal kandungan merkuri pada tambal gigi amalgam. Tentu saja risiko merkuri masuk ke dalam tubuh lebih tinggi karena ada di gigi," tutur Yuyun dalam seminar 'Mengapa Kita Harus Mendorong Sektor Kesehatan Gigi Bebas Merkuri (Mercury-Free Dentistry)?' di Hotel Ibis Tamarin, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (23/1/2016).
Baca juga: Ikan Salmon Mengandung Merkuri yg Berbahaya Bagi Kesehatan, Benarkah?
Organisasi Kesehatan Global (WHO) memasukkan merkuri sebagai salah sesuatu dari 10 zat kimia yg sangat berbahaya untuk kesehatan. Gambaran merkuri, meski dalam jumlah sedikit, disebut bisa mengancam kesehatan, terutama sistem saraf, pencernaan, paru-paru, kulit, mata hingga sistem kekebalan tubuh.
Perjanjian Minamata yg ditandatangani oleh 128 negara, termasuk Indonesia, pada tahun 2013 juga bertujuan bagi mengurangi dan menghentikan penggunaan merkuri dalam produk yg digunakan masyarakat, termasuk penggunaannya sebagai bahan pembuatan tambal gigi amalgam.
drg Kartini Rustandi, MKes, Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan RI menyampaikan pemerintah telah berupaya ba gi mengurangi pemakaian tambal gigi amalgam. Salah satunya adalah dengan tak memasukkan lagi amalgam dalam daftar obat esensial nasional (DOEN) sejak tahun 2011.
Selain itu, tambal gigi amalgam tak dimasukkan ke dalam pelayanan yg dijamin oleh program Agunan Kesehatan Nasional (JKN). Meski begitu, memang tak dapat dipungkiri masih ada dokter gigi yg memakai amalgam dalam penambalan gigi berlubang.
"Artinya ini jadi bahan masukan buat pemerintah. Apakah perlu kalian sampai menghimbau, padahal di DOEN udah nggak ada, kebijakan PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) juga telah tak menyarankan, di pedoman nasional pelayanan kedokteran gigi Perlu rencana aksi yg lebih matang supaya sosialisasi ke masyarakat lebih berjalan," paparnya.
Baca juga: Langka, Jameela Diduga Keracunan Merkuri karena Tambalan Gigi(mrs/lll)
Sumber: http://health.detik.com
Ir Yuyun Ismawati, MSc(Oxon), Senior Advisor dari BaliFokus, lembaga swadaya masyarakat yg bergerak di bidang penanganan limbah zat beracun, menyebut 50 persen dari komposisi tambal gigi amalgam yaitu merkuri. Padahal seperti diketahui, merkuri yaitu zat beracun yg berbahaya seandainya masuk ke dalam tubuh manusia.
"Sayangnya, cuma 24 persen masyarakat yg mengetahui soal kandungan merkuri pada tambal gigi amalgam. Tentu saja risiko merkuri masuk ke dalam tubuh lebih tinggi karena ada di gigi," tutur Yuyun dalam seminar 'Mengapa Kita Harus Mendorong Sektor Kesehatan Gigi Bebas Merkuri (Mercury-Free Dentistry)?' di Hotel Ibis Tamarin, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu (23/1/2016).
Baca juga: Ikan Salmon Mengandung Merkuri yg Berbahaya Bagi Kesehatan, Benarkah?
Organisasi Kesehatan Global (WHO) memasukkan merkuri sebagai salah sesuatu dari 10 zat kimia yg sangat berbahaya untuk kesehatan. Gambaran merkuri, meski dalam jumlah sedikit, disebut bisa mengancam kesehatan, terutama sistem saraf, pencernaan, paru-paru, kulit, mata hingga sistem kekebalan tubuh.
Perjanjian Minamata yg ditandatangani oleh 128 negara, termasuk Indonesia, pada tahun 2013 juga bertujuan bagi mengurangi dan menghentikan penggunaan merkuri dalam produk yg digunakan masyarakat, termasuk penggunaannya sebagai bahan pembuatan tambal gigi amalgam.
drg Kartini Rustandi, MKes, Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga Kementerian Kesehatan RI menyampaikan pemerintah telah berupaya ba gi mengurangi pemakaian tambal gigi amalgam. Salah satunya adalah dengan tak memasukkan lagi amalgam dalam daftar obat esensial nasional (DOEN) sejak tahun 2011.
Selain itu, tambal gigi amalgam tak dimasukkan ke dalam pelayanan yg dijamin oleh program Agunan Kesehatan Nasional (JKN). Meski begitu, memang tak dapat dipungkiri masih ada dokter gigi yg memakai amalgam dalam penambalan gigi berlubang.
"Artinya ini jadi bahan masukan buat pemerintah. Apakah perlu kalian sampai menghimbau, padahal di DOEN udah nggak ada, kebijakan PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) juga telah tak menyarankan, di pedoman nasional pelayanan kedokteran gigi Perlu rencana aksi yg lebih matang supaya sosialisasi ke masyarakat lebih berjalan," paparnya.
Baca juga: Langka, Jameela Diduga Keracunan Merkuri karena Tambalan Gigi(mrs/lll)
Sumber: http://health.detik.com