April-Agustus, Waspadai Risiko Penyakit Di Musim Kemarau Basah
"Saat pertemuan dengan Wapres dua waktu lalu, BMKG menyampaikan supaya masyarakat berhati-hati. Musim hujan mulai berakhir di bulan Maret tetapi bulan April sampai Agustus mulai terjadi la nina sehingga diperkirakan Indonesia bakal mengalami kemarau basah di mana hujan mulai terus-menerus terjadi," tutur Menteri Kesehatan Nila Moeloek.
Selain memikirkan bagaimana ketahanan pangan, lanjut Menkes Nila, Wapres Jusuf Kalla juga menyinggung bagaimana ketahanan di bidang kesehatan. Hal tersebut disampaikan Menkes Nila di sela-sela gelar karya Balai Teknik Kesehatan Lingk ungan dan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Rabu (17/2/2016).
"Soal leptospirosis, sebelum musim hujan pun tikus mulai keluar dan bawa penyakit. Yang aku bingung adalah bagaimana menangani diare. Itu kemungkinan tetap mulai terjadi. Lihat kan di TV? Saat banjir anak milik kesempatan berenang, mandi di air banjir, dulu tiba-tiba ada yg mengambang karena memang campur baur semuanya," tutur Menkes Nila mengulang ucapannya kala itu.
Baca juga: Peneliti WHO: Indonesia Tak Perlu Takut Zika, Kendalikan Saja Dulu DBD
Untuk itu, Menkes Nila tetap mengimbau agar masyarakat tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dan menjaga kebersihan lingkungan. Seperti imbauan Wapres Jusuf Kalla buat menggalakkan gerakan sejuta sekop. Dijelaskan Menkes Nila, gerakan ini berupa masyarakat yg memanfaatkan sekop di rumahnya buat membersihkan sampah di d aerah rumah.
Akan digalakkan kembali pula program Jumat Bersih. Jika memang di hari Jumat agak sulit melakukan kegiatan bersih-bersih rumah, dapat saja program bersih-bersih dialihkan menjadi program Minggu Bersih, demikian dikatakan Menkes Nila.
"Kemudian Wapres juga meminta supaya air ketika hujan dapat terserap ke tanah, maka perlu kami kembalikan hutan dengan penanaman, baik tanaman keras atau produktif. Meski kalau tanaman keras ketika besar harus ditebang sedangkan kalau tanaman produktif dapat kalian tetap nikmati buahnya," tutur Menkes.
Di musim kemarau basah, Menkes menyampaikan risiko penyakit yg muncul sama dengan saat banjir misalkan DBD, diare, dan leptospirosis. Sehingga, Menkes menekankan pentingnya menjaga lingkungan dan menerapkan PHBS.
(rdn/vit)
Sumber: http://health.detik.com
"Saat pertemuan dengan Wapres dua waktu lalu, BMKG menyampaikan supaya masyarakat berhati-hati. Musim hujan mulai berakhir di bulan Maret tetapi bulan April sampai Agustus mulai terjadi la nina sehingga diperkirakan Indonesia bakal mengalami kemarau basah di mana hujan mulai terus-menerus terjadi," tutur Menteri Kesehatan Nila Moeloek.
Selain memikirkan bagaimana ketahanan pangan, lanjut Menkes Nila, Wapres Jusuf Kalla juga menyinggung bagaimana ketahanan di bidang kesehatan. Hal tersebut disampaikan Menkes Nila di sela-sela gelar karya Balai Teknik Kesehatan Lingk ungan dan Pengendalian Penyakit (BTKL-PP) di kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Rabu (17/2/2016).
"Soal leptospirosis, sebelum musim hujan pun tikus mulai keluar dan bawa penyakit. Yang aku bingung adalah bagaimana menangani diare. Itu kemungkinan tetap mulai terjadi. Lihat kan di TV? Saat banjir anak milik kesempatan berenang, mandi di air banjir, dulu tiba-tiba ada yg mengambang karena memang campur baur semuanya," tutur Menkes Nila mengulang ucapannya kala itu.
Baca juga: Peneliti WHO: Indonesia Tak Perlu Takut Zika, Kendalikan Saja Dulu DBD
Untuk itu, Menkes Nila tetap mengimbau agar masyarakat tetap menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dan menjaga kebersihan lingkungan. Seperti imbauan Wapres Jusuf Kalla buat menggalakkan gerakan sejuta sekop. Dijelaskan Menkes Nila, gerakan ini berupa masyarakat yg memanfaatkan sekop di rumahnya buat membersihkan sampah di d aerah rumah.
Akan digalakkan kembali pula program Jumat Bersih. Jika memang di hari Jumat agak sulit melakukan kegiatan bersih-bersih rumah, dapat saja program bersih-bersih dialihkan menjadi program Minggu Bersih, demikian dikatakan Menkes Nila.
"Kemudian Wapres juga meminta supaya air ketika hujan dapat terserap ke tanah, maka perlu kami kembalikan hutan dengan penanaman, baik tanaman keras atau produktif. Meski kalau tanaman keras ketika besar harus ditebang sedangkan kalau tanaman produktif dapat kalian tetap nikmati buahnya," tutur Menkes.
Di musim kemarau basah, Menkes menyampaikan risiko penyakit yg muncul sama dengan saat banjir misalkan DBD, diare, dan leptospirosis. Sehingga, Menkes menekankan pentingnya menjaga lingkungan dan menerapkan PHBS.
(rdn/vit)
Sumber: http://health.detik.com