Badan Bongsor Anak Perempuan Bisa Saja Jadi Indikasi Pubertas Dini
dr Aditya Suryansyah SpA dari RSAB Asa Kita menyampaikan ia pernah mendapat pasien anak perempuan usia 6,5 tahun bertubuh bongsor. Awalnya, ketika orang tua berkonsultasi pada dokter, dikatakan tumbuh kembang anaknya amat baik.
"Kemudian payudaranya telah tumbuh, dikira kegemukan. Baru orang tuanya panik setelah anaknya haid. Setelah dicek, memang dia mengalami pubertas dini," kata dr Adit dalam diskusi media 'Pubertas' di RSAB Asa Kita, Jakarta, Rabu (17/2/2016).
Menurut dr Adit, pubertas dini dapat terj adi karena faktor genetik yakni kadar hormon yg tak seimbang atau memang ada keadaan yang lain yg menyebabkan pubertas dini, misalnya terdapat tumor di rahim si anak.
"Kalau ada tumor di ovarium, kadar hormon si anak kan terpengaruh. Setelah kami angkat tumornya, ya kembali normal lagi. Tapi kalau memang penyebabnya hormonal, apalagi seperti masalah pubertas dini di usia 6,5 tahun tadi, kami hentikan hormonnya dengan disuntik hormon," kata dr Adit.
Baca juga: Saran Psikolog buat Ortu Saat Hadapi Anak yg Terlalu Keletah di Masa PuberÂ
Pada masalah bocah 6,5 tahun tadi, pasca menjalani terapi hormon, benar saja payudaranya mampu mengempis dan haidnya pun berhenti. Namun, dr Adit menekankan utama buat mengetahui pemicu pubertas dini atau bahkan terlambat, harus dilihat apakah memang itu yaitu variasi genetik di keluarga atau memang ada kelainan.
Untuk kelainan hormon, menurut dr Adit dapat juga dipengaruhi obesitas. Sehingga, terapi anak yg dianggap pubertas terlalu dini atau terlalu telat, harus dilihat secara komprehensif dan dicari pencetusnya. Kemudian, tidak seluruh persoalan pubertas dini atau telat harus diatasi dengan terapi hormon. dr Adit menambahkan, selama 30 tahun terakhir, pubertas dini memang lebih banyak terjadi dibandingkan sebelumnya.
"Baiknya sih terapi hormon dikerjakan di bawah usia 12 tahun ya karena tulangnya kan ibaratnya masih terbuka. Peluang buat kembali normal dapat lebih besar. Sedangkan harga terapi hormon variatif ya," kata dr Adit.
Pada anak perempuan, tanda awal pubertas berupa tumbuhnya payudara umum terjadi di usia 8-13 tahun. Sedangkan pada anak lelaki, tanda awal pubertas berupa membesarnya testis terjadi di usia 13-14 tahun. Baru, 2-3 tahun kemudian terjadi tanda akhir pubertas yakni haid pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki. Meskipun, ada pula variasi waktu yg lebih cepat atau lebih lama dari umumnya, yg menurut dr Adit masih dikatakan normal.
Baca juga: Orientasi Seks Sesama Jenis Kelamin, Bisakah Dilihat Sejak Dini? (rdn/vit)
Sumber: http://health.detik.com
dr Aditya Suryansyah SpA dari RSAB Asa Kita menyampaikan ia pernah mendapat pasien anak perempuan usia 6,5 tahun bertubuh bongsor. Awalnya, ketika orang tua berkonsultasi pada dokter, dikatakan tumbuh kembang anaknya amat baik.
"Kemudian payudaranya telah tumbuh, dikira kegemukan. Baru orang tuanya panik setelah anaknya haid. Setelah dicek, memang dia mengalami pubertas dini," kata dr Adit dalam diskusi media 'Pubertas' di RSAB Asa Kita, Jakarta, Rabu (17/2/2016).
Menurut dr Adit, pubertas dini dapat terj adi karena faktor genetik yakni kadar hormon yg tak seimbang atau memang ada keadaan yang lain yg menyebabkan pubertas dini, misalnya terdapat tumor di rahim si anak.
"Kalau ada tumor di ovarium, kadar hormon si anak kan terpengaruh. Setelah kami angkat tumornya, ya kembali normal lagi. Tapi kalau memang penyebabnya hormonal, apalagi seperti masalah pubertas dini di usia 6,5 tahun tadi, kami hentikan hormonnya dengan disuntik hormon," kata dr Adit.
Baca juga: Saran Psikolog buat Ortu Saat Hadapi Anak yg Terlalu Keletah di Masa PuberÂ
Pada masalah bocah 6,5 tahun tadi, pasca menjalani terapi hormon, benar saja payudaranya mampu mengempis dan haidnya pun berhenti. Namun, dr Adit menekankan utama buat mengetahui pemicu pubertas dini atau bahkan terlambat, harus dilihat apakah memang itu yaitu variasi genetik di keluarga atau memang ada kelainan.
Untuk kelainan hormon, menurut dr Adit dapat juga dipengaruhi obesitas. Sehingga, terapi anak yg dianggap pubertas terlalu dini atau terlalu telat, harus dilihat secara komprehensif dan dicari pencetusnya. Kemudian, tidak seluruh persoalan pubertas dini atau telat harus diatasi dengan terapi hormon. dr Adit menambahkan, selama 30 tahun terakhir, pubertas dini memang lebih banyak terjadi dibandingkan sebelumnya.
"Baiknya sih terapi hormon dikerjakan di bawah usia 12 tahun ya karena tulangnya kan ibaratnya masih terbuka. Peluang buat kembali normal dapat lebih besar. Sedangkan harga terapi hormon variatif ya," kata dr Adit.
Pada anak perempuan, tanda awal pubertas berupa tumbuhnya payudara umum terjadi di usia 8-13 tahun. Sedangkan pada anak lelaki, tanda awal pubertas berupa membesarnya testis terjadi di usia 13-14 tahun. Baru, 2-3 tahun kemudian terjadi tanda akhir pubertas yakni haid pada anak perempuan dan mimpi basah pada anak laki-laki. Meskipun, ada pula variasi waktu yg lebih cepat atau lebih lama dari umumnya, yg menurut dr Adit masih dikatakan normal.
Baca juga: Orientasi Seks Sesama Jenis Kelamin, Bisakah Dilihat Sejak Dini? (rdn/vit)
Sumber: http://health.detik.com