Kisah Getir Elizabeth Yang Meninggal Selepas Terserang Flu
Pagi itu, tanggal 21 November lalu, putri dari Natalia ini terserang flu. Namun sang ibu tidak menggubrisnya. Ia bahkan sempat mengajak putrinya mengunjungi museum dan menemui Santa Klaus di sebuah pusat perbelanjaan.
Malam harinya Elizabeth tidak dapat tidur dan dua kali terbangun dalam kondisi terbatuk-batuk. Si kecil juga mengalami demam. Jam 6 pagi, Elizabeth terbangun lagi dan akan bernapas dengan cepat.
Natalia segera membawa putrinya ke Cheltenham General Hospital. Bocah berumur lima tahun itu sampai harus digendong oleh sang ibu karena ia terlalu lemah bagi berjalan seorang diri.< br>
Elizabeth kemudian dipindahkan ke unit perawatan intensif di Gloucestershire Royal Hospital, sebelum akhirnya dirujuk lagi ke Bristol Children's Hospital pada tanggal 23 November.
Hal yg tidak terduga terjadi, sebab si kecil malah jatuh koma. "Saya masih belum percaya. Di pagi hari aku kira ia terkena flu dan malam harinya aku diberitahu umurnya takkan lama. Ini betul-betul mengerikan," tutur Natalia.
Baca juga: Jangan Sepelekan, Demam pada Anak Dapat Jadi Gejala Penyakit Serius
Sejak ketika itu Elizabeth tidak bangun lagi, dan cuma sempat bertahan selama 18 hari, itu pun dengan bantuan mesin penunjang kehidupan. Pada tanggal 18 Desember atau 18 hari setelah gejala awalnya muncul, bocah ini menghembuskan napas terakhirnya.
Rupanya virus yg menyebabkan gejala mirip flu sudah menyerang tubuh Elizabeth sekaligus memicu keadaan autoimun yg sangat langka, merupakan Hemophagocytic Lymphohistiocytosis. Ini art inya tubuhnya terpicu memberikan reaksi yg berlebihan saat melawan virus.
Tapi alih-alih sembuh, tubuh Elizabeth malah masuk ke dalam kondisi septic shock (kondisi medis serius di mana infeksi menyebar luas dan terjadi peradangan di segala tubuh, red) dan memadamkan kinerja organ-organ vitalnya, termasuk memutus aliran darah ke organ tersebut.
Mau tidak mau Natalia dihadapkan pada kenyataan bahwa putrinya takkan bangun lagi dan terpaksa mematikan mesin penunjangnya. "18 hari itu adalah masa-masa paling menyedihkan buat kami, apalagi dengan adanya fakta bahwa ia dibunuh sistem kekebalannya sendiri," keluh Natalia seperti dikutip dari Mirror, Selasa (9/2/2016).
Baca juga: Anak Demam 3 Hari Disertai Batuk Pilek Niscaya Kena DBD? Belum Tentu
Demi mengobati rasa dukanya yg mendalam, kini wanita berumur 41 tahun itu menetapkan melakukan kampanye tentang keadaan Elizabeth dengan cara menyusuri segala pantai yg ada di Inggris, sebab pantai adalah tempat favorit putri bungsunya itu.
Menurut Natalia, setelah putrinya meninggal, ia dua kali mengunjungi pantai dan di situ ia menyadari bahwa pantai adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa lebih baik dan dapat terkoneksi dengan Elizabeth.
"Saya tidak ingin pulang. Saya ingin berasa di pantai dalam waktu lama, selalu saja berjalan. Lalu mengapa aku tak merealisasikannya saja?" tekadnya.
Rencananya wanita yang berasal Cheltenham, Gloucestershire itu mulai memulainya pada tanggal 14 Februari mendatang, merupakan dari Durdle Dore, Dorset, pantai terakhir yg dikunjungi Natalia dan Elizabeth. Natalia bahkan telah menargetkan bagi menyelesaikan semuanya 10 bulan kemudian atau pada tanggal 10 Desember 2016, peringatan kematian Elizabeth yg pertama.
Dari perjalanan itu, Natalia juga berharap mampu mengumpulkan dana lebih dari 100.000 poundsterling buat Wallace and Gromit Grand Appeal, sebuah yayasan yg berkaitan dengan rumah sakit di mana Elizabeth meninggal dunia.
(lll/vit)
Sumber: http://health.detik.com
Pagi itu, tanggal 21 November lalu, putri dari Natalia ini terserang flu. Namun sang ibu tidak menggubrisnya. Ia bahkan sempat mengajak putrinya mengunjungi museum dan menemui Santa Klaus di sebuah pusat perbelanjaan.
Malam harinya Elizabeth tidak dapat tidur dan dua kali terbangun dalam kondisi terbatuk-batuk. Si kecil juga mengalami demam. Jam 6 pagi, Elizabeth terbangun lagi dan akan bernapas dengan cepat.
Natalia segera membawa putrinya ke Cheltenham General Hospital. Bocah berumur lima tahun itu sampai harus digendong oleh sang ibu karena ia terlalu lemah bagi berjalan seorang diri.< br>
Elizabeth dalam kondisi koma karena flu (Foto: SWNS) |
Elizabeth kemudian dipindahkan ke unit perawatan intensif di Gloucestershire Royal Hospital, sebelum akhirnya dirujuk lagi ke Bristol Children's Hospital pada tanggal 23 November.
Hal yg tidak terduga terjadi, sebab si kecil malah jatuh koma. "Saya masih belum percaya. Di pagi hari aku kira ia terkena flu dan malam harinya aku diberitahu umurnya takkan lama. Ini betul-betul mengerikan," tutur Natalia.
Baca juga: Jangan Sepelekan, Demam pada Anak Dapat Jadi Gejala Penyakit Serius
Sejak ketika itu Elizabeth tidak bangun lagi, dan cuma sempat bertahan selama 18 hari, itu pun dengan bantuan mesin penunjang kehidupan. Pada tanggal 18 Desember atau 18 hari setelah gejala awalnya muncul, bocah ini menghembuskan napas terakhirnya.
Rupanya virus yg menyebabkan gejala mirip flu sudah menyerang tubuh Elizabeth sekaligus memicu keadaan autoimun yg sangat langka, merupakan Hemophagocytic Lymphohistiocytosis. Ini art inya tubuhnya terpicu memberikan reaksi yg berlebihan saat melawan virus.
Tapi alih-alih sembuh, tubuh Elizabeth malah masuk ke dalam kondisi septic shock (kondisi medis serius di mana infeksi menyebar luas dan terjadi peradangan di segala tubuh, red) dan memadamkan kinerja organ-organ vitalnya, termasuk memutus aliran darah ke organ tersebut.
Mau tidak mau Natalia dihadapkan pada kenyataan bahwa putrinya takkan bangun lagi dan terpaksa mematikan mesin penunjangnya. "18 hari itu adalah masa-masa paling menyedihkan buat kami, apalagi dengan adanya fakta bahwa ia dibunuh sistem kekebalannya sendiri," keluh Natalia seperti dikutip dari Mirror, Selasa (9/2/2016).
Baca juga: Anak Demam 3 Hari Disertai Batuk Pilek Niscaya Kena DBD? Belum Tentu
Demi mengobati rasa dukanya yg mendalam, kini wanita berumur 41 tahun itu menetapkan melakukan kampanye tentang keadaan Elizabeth dengan cara menyusuri segala pantai yg ada di Inggris, sebab pantai adalah tempat favorit putri bungsunya itu.
Menurut Natalia, setelah putrinya meninggal, ia dua kali mengunjungi pantai dan di situ ia menyadari bahwa pantai adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa lebih baik dan dapat terkoneksi dengan Elizabeth.
"Saya tidak ingin pulang. Saya ingin berasa di pantai dalam waktu lama, selalu saja berjalan. Lalu mengapa aku tak merealisasikannya saja?" tekadnya.
Rencananya wanita yang berasal Cheltenham, Gloucestershire itu mulai memulainya pada tanggal 14 Februari mendatang, merupakan dari Durdle Dore, Dorset, pantai terakhir yg dikunjungi Natalia dan Elizabeth. Natalia bahkan telah menargetkan bagi menyelesaikan semuanya 10 bulan kemudian atau pada tanggal 10 Desember 2016, peringatan kematian Elizabeth yg pertama.
Dari perjalanan itu, Natalia juga berharap mampu mengumpulkan dana lebih dari 100.000 poundsterling buat Wallace and Gromit Grand Appeal, sebuah yayasan yg berkaitan dengan rumah sakit di mana Elizabeth meninggal dunia.
(lll/vit)
Sumber: http://health.detik.com
Elizabeth dalam kondisi koma karena flu (Foto: SWNS)