Rabu, 17 Februari 2016

test: Risiko Perokok Pasif

Risiko Perokok Pasif


Jakarta, Saya adalah karyawan swasta yg baru bekerja sebulan. Di kantor aku mayoritas adalah perokok (kantor aku cuma ada sedikit pegawai). Apa yg harus aku lakukan Dok? Apa sebaiknya aku keluar atau bagaimana? Terimakasih.

Riza (Wanita, 23 tahun)
rizazahroXXXXXXX@yahoo.com
Tinggi 163 cm, berat 54 kg

Jawaban

Dear Riza,

Saya memahami betapa dilematis keadaan yg saudari hadapi. Di sesuatu sisi ingin bebas asap rokok, namun di sisi yang lain mayoritas adalah perokok. Tentunya segera keluar bukan langkah bijaksana.

Merokok itu mampu dikatakan candu. Jadi, dari cuma sekadar mencoba-coba, dikerjakan berulang-ulang, menjadi ketagihan, maka selanjutnya menjadi kebiasaan. Hanya diri sendirilah yg bisa mengubah 'kebiasaan' buruk ini. Tentu disertai niat dan kemauan yg kuat bagi menghentikan Norma merokok.

Secara umum, merokok pasif bisa terkait dengan kejadian asma. Hal ini dibuktikan melalui riset yg dikerjakan oleh Coogan PF dkk (2015). Studi pada sekitar 46.182 partisipan, yg diikuti dari tahun 1995 hingga 2011, sebanyak 1523 dilaporkan menderita asma.

Disimpulkan bahwa di populasi dengan 16 tahun follow-up ini, merokok aktif meningkatkan insiden asma pada dewasa. Sedangkan terpapar asap rokok (merokok pasif) meningkatkan risiko di antara bukan perokok.

Merokok pasif memang sudah lama teridentifikasi sebagai faktor risiko utama buat berbagai penyakit kardiovaskuler. Hal ini didukung oleh riset yg dikerjakan oleh Otsuka R, dkk (2001), merokok pasif bisa menyebabkan disfungsi endotel dari sirkulasi pembuluh darah koroner pada orang yg tak merokok (nonperokok).

Merokok pasif juga berefek negatif buat perempuan. Menurut Trichopoulos D, dkk (1981), risiko relatif kanker paru-paru p ada perempuan yg memiliki suami perokok adalah 2,4 bagi perokok kurang dari sesuatu pak/hari dan 3,4 bagi perempuan yg suaminya merokok lebih dari sesuatu pak/hari.

Hal ini didukung oleh studi yg dikerjakan oleh Li, Nan dkk (2015). Tim riset mereka menyimpulkan bahwa di daerah pedesaan China utara, banyak dijumpai perempuan yg yaitu perokok pasif. Sering terpapar oleh asap rokok yaitu faktor risiko bagi hipertensi di antara perempuan bukan perokok.

Dari berbagai efek negatif merokok tersebut, ada dua alternatif yg bisa saudari lakukan:
1. Menanyakan kepada bagian HRD atau pimpinan tentang (per)aturan merokok di perusahaan.
2. Dekatilah pimpinan, HRD, bagian pembuat kebijakan, para perokok, serta para karyawan (atasan-bawahan), dulu buatlah komitmen bersama tentang kapan dan tempat-tempat mana di perusahaan dimana karyawan boleh/bebas merokok. Tentunya hal ini memerlukan jiwa kepemimpinan kuat, kemampuan diplomasi yg baik, upaya tidak kenal lelah, serta waktu yg c ukup lama.
3. Hal sederhana yg bisa dikerjakan bila memang tak kuat menghadapi asap rokok adalah menyingkir atau menjauh, dengan mengatakan, "Maaf, aku alergi asap rokok."
4. Membuat artikel, stiker, pamflet tentang bahaya merokok, dahulu disebarluaskan ke teman atau kolega. Tentunya hal ini bisa dikerjakan dalam suasana yg akrab dan penuh kekeluargaan. Misalnya disebarluaskan di sela-sela pertemuan, ketika istirahat, ketika bercanda, di sela-sela acara gathering, dsb.
5. Hal terakhir namun terpenting tentunya berdoa. Berdoalah agar Allah membukakan hati para perokok, sehingga akhirnya para 'ahli hisap' itu sadar dan berhenti merokok selamanya.

Demikian penjelasan ini. Semoga memberikan solusi.

Salam sehat dan sukses selalu.

Dito Anurogo, penulis 17 buku, sedang studi di S2 Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis FK UGM Yogyakarta.

(hrn/vit)
Sumber: http://health.detik.com

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : test: Risiko Perokok Pasif