Selasa, 16 Februari 2016

test: Saktinya Para Nyamuk, Puluhan Tahun Dibasmi Tapi Tidak Punah-punah

Saktinya Para Nyamuk, Puluhan Tahun Dibasmi Tapi Tidak Punah-punah


Jakarta, Awalnya, nyamuk cuma endemis di Benua Afrika. Sejak abad ke-16, binatang yg menularkan berbagai penyakit ini menyebar hampir ke segala dunia dan menjadi 'seteru abadi' umat manusia.

Berbagai upaya sudah dikerjakan buat melenyapkan nyamuk. Dimulai pada tahun 1939, ketika Paul Hermann Muller memperkenalkan senyawa DDT (Dichloro Diphenyl Trichloroethane) sebagai pembasmi serangga.

Semasa Perang Global II, DDT banyak dipakai bagi mengendalikan infeksi malaria dan typhus. Saat menginvasi Pulau Saipan di Mariana Utara pada tahun 1944, tentara Amerika menyemprotkan 900 galon campuran DDT dan minyak tanah. Hasilnya, Amerika sukses mengalahkan Jepang sekaligus nyamuk Aedes yg ketika itu menyebar wabah Demam Berdarah Dengue (DBD).

Setelah p erang berakhir, DDT masih dipakai bagi buat membasmi serangga, baik nyamuk maupun hama tanaman. Muller pada tahun 1948 mendapat Nobel kedokteran atas temuannya tersebut.

Di luar perang, penggunaan DDT pada nyamuk juga mencatatkan kisah sukses di Amerika Latin. Pan American Health Organization (PAHO) di era 1950-1960-an pernah sukses melenyapkan Aedes aegypti di 18 negara Amerika Latin melalui penyemprotan DDT secara massal.

Sayangnya strategi ini butuh kewaspadaan yg konstan dan berkelanjutan. Tak lama setelah penyemprotan dihentikan, nyamuk penular virus Dengue dan Zika tersebut kembali muncul, diduga terbawa oleh kapal-kapal yg berlayar dari Asia dan Afrika.

Belakangan, penggunaan DDT dilarang karena berdampak buruk buat lingkungan dan kesehatan manusia. Dari sisi nyamuk sendiri, resistensi atau kekebalan terhadap DDT makin banyak dilaporkan.

Baca juga: Binatang Paling Mematikan di Bumi adalah Nyamuk 

Perang melawan nyamuk pun berlanjut dengan sentuhan bioteknologi. Nyamuk-nyamuk mutan akan diciptakan buat mengontrol populasi nyamuk. Modifikasi genetik dikerjakan bagi menghasilkan nyamuk mandul, nyamuk tanpa sayap, atau sekedar nyamuk kebal penyakit.

Tahun 2010, nyamuk-nyamuk jantan hasil modifikasi genetik dilepaskan di 3 tempat yakni Brazil, Cayman Island, dan Panama. Nyamuk-nyamuk ini diharapkan mulai mengawini nyamuk liar betina. Tercatat, populasi nyamuk di daerah yg menjadi lokasi uji mencoba turun sebesar 80-90 persen.

Sayangnya, 6 bulan setelah uji mencoba dihentikan populasinya kembali meningkat. Pro dan kontra juga mewarnai keberlanjutan program tersebut. Sebagian mengkhawatirkan dampaknya buat keseimbangan ekosistem, sebagian lagi tak rela daerahnya menjadi kelinci percobaan.

Baca juga: P erlukah Nyamuk Dihabisi? 

Faktanya, dari sekitar 3.500 spesies nyamuk cuma ratusan di antaranya yg menyerang manusia. Tiga kelompok atau genus nyamuk penular penyakit yg paling banyak dikenal adalah Anopheles yg menularkan Plasmodium Malaria, Aedes yg antara yang lain menularkan virus Dengue, Chikungunya dan Zika, serta Culex yg menularkan cacing filariasis penyebab Kaki Gajah (Elephantiasis).(up/vit)
Sumber: http://health.detik.com

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : test: Saktinya Para Nyamuk, Puluhan Tahun Dibasmi Tapi Tidak Punah-punah