Studi: Marah Benar-benar Bisa Mengubah Struktur Otak
Dikutip dari Daily Mail, Selasa (9/2/2016), sebuah penelitian dikerjakan pada tikus-tikus yg menjadi agresif setelah berkelahi. Para peneliti mempelajari bagaimana perubahan pada otak tikus-tikus tersebut.
Pada studi baru ini, para peneliti juga membandingkan hippocampus dan amigdala (daerah otak yg bertanggung jawab buat takut, agresif, dan kecemasan) bagi melacak pengaruh agresif dengan beberapa struktur kunci sekaligus. Hasilnya, tikus yg agresif dan aktif secara sosial mulai lebih mungkin menghasilka n saraf baru di hippocampus.
Baca juga: Demi Rp 1,4 Miliar, Ilmuwan Berlomba-lomba Temukan Cara Mengawetkan Otak
Dalam penelitian tersebut kelihatan produksi sel-sel saraf di hippocampus para tikus jantan. Aktivitas dalam sel-sel saraf baru kelihatan setelah perilaku agresif para tikus. Ternyata keberadaan sel-sel saraf baru itu membuat tikus lebih kadang marah. Sehingga dengan lebih tidak jarang marah maka mulai membuat tikus tersebut menjadi terus-menerus marah.
Percobaan baru tersebut juga mengungkapkan bahwa dengan berulang-ulang kali berkelahi, tingkat c-fos, salah sesuatu metode standar aktif mencari perubahan sel-sel saraf, mulai meningkat dalam hippocampus dan menurun di amigdala. Kendati hal ini dapat menyebabkan kebingungan para peneliti, namun itu adalah salah sesuatu temuan menarik, karena pada manusia amigdala terlibat dalam sejumlah proses patologis, termasuk keterka itan dengan autisme.
Para peneliti mengamati peningkatan kecemasan dan gangguan kemampuan bagi berkomunikasi dengan tikus yang lain serta mencatatat gejala yg mirip dengan autisme pada manusia. Grigori Enikolopov, kepala MIPT's Laboratory of Brain Stem Cells menyatakan kekagumannya atas kemiripan keadaan pada organisme yg berbeda.
Baca juga: Ini Sebabnya Mengapa Hidung 'Meler' Setelah Anda Makan Makanan Pedas(vit/vit)
Sumber: http://health.detik.com
Dikutip dari Daily Mail, Selasa (9/2/2016), sebuah penelitian dikerjakan pada tikus-tikus yg menjadi agresif setelah berkelahi. Para peneliti mempelajari bagaimana perubahan pada otak tikus-tikus tersebut.
Pada studi baru ini, para peneliti juga membandingkan hippocampus dan amigdala (daerah otak yg bertanggung jawab buat takut, agresif, dan kecemasan) bagi melacak pengaruh agresif dengan beberapa struktur kunci sekaligus. Hasilnya, tikus yg agresif dan aktif secara sosial mulai lebih mungkin menghasilka n saraf baru di hippocampus.
Baca juga: Demi Rp 1,4 Miliar, Ilmuwan Berlomba-lomba Temukan Cara Mengawetkan Otak
Dalam penelitian tersebut kelihatan produksi sel-sel saraf di hippocampus para tikus jantan. Aktivitas dalam sel-sel saraf baru kelihatan setelah perilaku agresif para tikus. Ternyata keberadaan sel-sel saraf baru itu membuat tikus lebih kadang marah. Sehingga dengan lebih tidak jarang marah maka mulai membuat tikus tersebut menjadi terus-menerus marah.
Percobaan baru tersebut juga mengungkapkan bahwa dengan berulang-ulang kali berkelahi, tingkat c-fos, salah sesuatu metode standar aktif mencari perubahan sel-sel saraf, mulai meningkat dalam hippocampus dan menurun di amigdala. Kendati hal ini dapat menyebabkan kebingungan para peneliti, namun itu adalah salah sesuatu temuan menarik, karena pada manusia amigdala terlibat dalam sejumlah proses patologis, termasuk keterka itan dengan autisme.
Para peneliti mengamati peningkatan kecemasan dan gangguan kemampuan bagi berkomunikasi dengan tikus yang lain serta mencatatat gejala yg mirip dengan autisme pada manusia. Grigori Enikolopov, kepala MIPT's Laboratory of Brain Stem Cells menyatakan kekagumannya atas kemiripan keadaan pada organisme yg berbeda.
Baca juga: Ini Sebabnya Mengapa Hidung 'Meler' Setelah Anda Makan Makanan Pedas(vit/vit)
Sumber: http://health.detik.com